Jakarta – “Masuk polisi harus pakai orang dalam.” Anggapan ini sudah lama beredar di masyarakat dan membuat banyak anak muda berbakat ragu mendaftar. Kini Polri berupaya keras mematahkannya. Di bawah Kapolri pembenahan rekrutmen menjadi salah satu dari delapan Program Prioritas.
Tanpa Titipan, Tanpa Transaksi
Program Pembinaan SDM dan Pola Rekrutmen Anggota bertujuan melahirkan personel yang kompeten, berintegritas, adaptif terhadap teknologi dan bentuk kejahatan baru, serta ditempatkan sesuai kebutuhan dan kompetensinya.
Pembenahannya tidak berhenti di pintu masuk. Seorang anggota akan dibina sejak tahap perencanaan kebutuhan dan seleksi, lalu selama masa pendidikan, saat ditempatkan dan meniti jenjang karier, hingga tiba waktunya pensiun.
Ketika menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR pada awal Oktober 2026, Kapolri menekankan bahwa penugasan anggota harus didasarkan pada prestasi dan catatan integritas. Ia menutup rapat pintu bagi praktik titip-menitip, jual-beli jabatan, maupun dukungan sponsor. Anggota yang berprestasi, menurutnya, akan dilindungi dan diberi kesempatan berkembang, sementara pelanggar akan ditindak secara konsisten dan sepadan dengan kesalahannya.
Nilai Langsung Muncul di Layar
Fondasi rekrutmen yang bersih sudah mulai dibangun. Seleksi Akademi Kepolisian (Akpol) 2026 berpegang pada prinsip yang disingkat BETAH, yakni proses yang bersih, terbuka atau transparan, dapat dipertanggungjawabkan, serta manusiawi. Pendaftaran hanya dibuka lewat satu jalur reguler, tanpa kuota khusus. Dari 7.988 orang yang mendaftar secara daring, sebanyak 5.432 lolos verifikasi awal, dan pada akhirnya 350 calon taruna dan taruni dinyatakan lulus.
Seluruh peserta menjalani ujian berbasis komputer (Computer Assisted Test/CAT). Soal tes potensi akademiknya disusun setara tingkat olimpiade, sehingga yang diuji adalah kemampuan menalar dan memecahkan masalah, bukan sekadar hafalan. Penilaiannya pun terukur. Tes potensi akademik, kemampuan bahasa Inggris, dan kesamaptaan jasmani masing-masing menyumbang 30 persen nilai akhir. Sisanya, 10 persen, berasal dari penilaian penampilan.
Yang paling menarik adalah transparansinya. Begitu ujian selesai, peserta bisa langsung melihat skornya sendiri di layar. Rekap seluruh nilai lalu dicetak dalam satu lembar dan ditandatangani bersama. Sejumlah lembaga di luar Polri juga ikut mengawasi. Dari unsur negara ada Ombudsman RI, sedangkan dari kalangan masyarakat sipil hadir Setara Institute, Centra Initiative, serta Amnesty International Indonesia.
Ghyna Islamiati Ramly, salah satu calon taruni yang dinyatakan lulus, mengaku merasakan keadilan itu secara langsung. Ia bisa melihat sendiri nilainya tanpa menunggu pengumuman, dan menurutnya tidak ada peserta yang diistimewakan karena asal-usul atau latar belakangnya.
Keadilan yang Dirasakan Pelamar
Pengalaman Ghyna sejalan dengan Teori Keadilan dalam Seleksi (Applicant Reactions to Selection Systems) yang dikembangkan Stephen W. Gilliland (1993). Gilliland menjelaskan bahwa pelamar menilai sebuah proses seleksi bukan hanya dari hasilnya, tetapi juga dari keadilan prosedurnya. Apakah tesnya relevan dengan pekerjaan? Apakah aturannya konsisten untuk semua? Apakah hasilnya disampaikan terbuka?
Ketika proses dirasakan adil, pelamar, termasuk yang gagal, cenderung tetap memandang positif organisasi tersebut. Bagi Polri, ini penting. Ribuan pelamar yang tidak lolos tetap pulang dengan keyakinan bahwa mereka gagal karena kemampuan, bukan karena tidak punya “orang dalam”. Mereka pun bisa menjadi duta kepercayaan bagi Polri di lingkungannya.
Rekrutmen Menentukan Wajah Institusi
Mengapa rekrutmen begitu menentukan? Psikolog organisasi Benjamin Schneider (1987) merumuskan Model Ketertarikan- Seleksi- Pengurangan (Attraction- Selection- Attrition) dengan ungkapan terkenal: “The people make the place”, yaitu manusialah yang membentuk organisasi. Budaya sebuah organisasi terbentuk dari siapa yang tertarik melamar, siapa yang diterima, dan siapa yang bertahan.
Jika jalur masuk dipenuhi transaksi, organisasi akan diisi orang-orang yang terbiasa membayar untuk mendapatkan jabatan, dan kebiasaan itu terbawa hingga ke lapangan. Sebaliknya, rekrutmen yang bersih akan menarik anak-anak muda berintegritas, dan mereka kelak membentuk wajah Polri yang dipercaya masyarakat. Kepala Divisi Humas Polri menyebut rekrutmen Akpol sebagai investasi jangka panjang untuk 25 hingga 30 tahun ke depan.
Setelah Lolos Seleksi
Rekrutmen yang bersih baru langkah awal. Agar anggota yang direkrut dengan jujur tetap bekerja dengan jujur, lingkungan setelahnya juga harus mendukung. Polri menyatakan tengah mengevaluasi kurikulum pendidikan kepolisian untuk mencegah kekerasan, terutama dalam hubungan senior dan junior. Dari sisi kesejahteraan, tunjangan kinerja anggota Polri juga dinaikkan menjadi 80 persen mulai 2026, sebagaimana dicatat dalam analisis anggaran Badan Keahlian DPR.
Kombinasi ini penting. Seleksi yang adil menjaring orang yang tepat, pendidikan yang sehat membentuk karakter, dan kesejahteraan yang layak mengurangi godaan untuk mencari penghasilan dengan cara yang tidak benar.
Tegas terhadap Calo
Polri juga menyiapkan saluran pengaduan bagi masyarakat yang menemukan praktik percaloan, mulai dari layanan Propam, hotline rekrutmen, hingga kantor polisi terdekat. Jika melibatkan anggota, kasusnya diproses Propam. Jika melibatkan warga sipil, pelaku ditindak secara hukum.
Ketegasan itu bukan sekadar imbauan. Pada Oktober 2026, Polda Jambi memberhentikan tidak dengan hormat dua anggotanya terkait dugaan penipuan rekrutmen bintara dengan kerugian sekitar Rp28 miliar. Sejumlah pihak lain masih diperiksa.
Tips bagi Calon Pendaftar
Bagi anak muda yang ingin mengabdi sebagai polisi, ada beberapa hal yang perlu diingat. Pertama, ikuti informasi pendaftaran hanya dari kanal resmi Polri dan Polda setempat. Kedua, seluruh tahapan seleksi tidak dipungut biaya, sehingga siapa pun yang meminta uang dengan janji kelulusan patut dicurigai. Ketiga, persiapkan diri sejak jauh hari: latih kemampuan akademik, bahasa Inggris, dan kebugaran jasmani, karena ketiganya menentukan sebagian besar nilai akhir.
Pesan untuk calon pendaftar pun jelas: jangan percaya siapa pun yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan uang. Sejalan dengan slogan Polisi Bersama Masyarakat, rekrutmen yang bersih hanya bisa terwujud jika masyarakat ikut menolak dan melaporkan calo.
Oleh : Gandha Syah Hidayat, Serdik Sespimmen Sespim Lemdiklat Polri Angkatan 67 Tahun 2026
